EsaiHikmah

QADHA ATAU FIDYAH !

AFINEWS.CO.ID| SUATU hari Nabi SAW kedatangan rombongan tamu jauh.

Sekitar awal bulan Syawal —lima atau enam hari usai Idul Fitri.

Seorang lelaki diantara mereka, menyampaikan maksudnya.

“Ya Rasulullah SAW”

“Sesungguhnya ibuku meninggal”

“Dan masih memiliki hutang puasa satu bulan.”

“Apakah saya harus mengqadha puasa untuknya ?”

Rasulullah SAW, sembari tersenyum bersabda.

“Jika ibumu punya hutang”

“Apakah engkau akan melunasi hutangnya ?”

Laki-laki itupun segera menjawab

“Pasti, wahai Ya Rasulullah SAW”

Maka Rasululullah SAW, melanjutkan sabdanya.

“Hutang kepada ALLAH SWT, lebih berhak untuk dilunasi”

(Hadits Riwayat dari Ibn Abbas ra, dalam Kitab ‘I’anathut Thalibin)

Sebagaimana juga disampaikan oleh Ummul Mukminin.

Sayyidatuna ‘Aisyah ra, tentang hadits tersebut.

“Orang yang meninggal dunia”

“Namun masih memiliki tanggungan hutang”

“Maka ahli warisnya harus berpuasa”

“Untuk mengganti puasa yang ditinggalkannya”

(Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Muslim)

Pandangan Syekh Syauqi Ibrahim Abdul Karim Allam, bisa dijadikan rujukan.

Mufti dari Universitas Al Azar Mesir menjelaskan.

Mengganti puasa bagi orang yang meninggal, ada dua pendapat.

Pertama, ahli warisnya mengganti dengan fidyah.

Bukan dengan puasa qadha.

Karena puasa tidak bisa digantikan oleh orang lain.

Baik saat masih hidup, ataupun sudah meninggal.

Pendapat ini dipegang para jumhur Hanafiyah, Malikiyah.

Serta Para Ulama Syafi’iyah kontemporer.

Sedangkan kedua, yaitu digantikan puasa oleh ahli warisnya.

Tidak perlu membayar fidyah.

Pendapat ini dianut oleh para jumhur ahli hadits.

Seperti Thuwais, Hasan al-Bashri, az-Zuhri, Qatadah.

Dan Para Ulama Syafi’iyah terdahulu (shalafush shalih)

Para ulama Ini menambahkan, bahwa puasa qadha sifatnya anjuran.

Ini lebih baik, dari pada sekedar mengganti fidyah.

Saudaraku yang selalu kami rindukan dunia akhirat.

Bagaimana kita menyikapinya ?

Kembali pada panjenengan semua, mana yang terbaik.

Membayar fidyah dilakukan sebagian besar ulama.

Mengqadha puasa almarhum/almarhumah, hukumnya boleh.

Semoga ALLAH SWT mengangkat derajat tinggi kedua orang tua kita.

Aamiin Aamiin Aamiin Yaa Mujibassailin.

“Astaghfirullah robbal baroya”

“Astaghfirullah minal khotoya”

“Robbi zidni i`lman nafia`”

“Wawafiqni a`malan maqbula”

“Rabbighfirli waliwalidayya … 3 x”

“Warhamhuma kama rabbayani shaghira”

Al Fatihah … 3 x

(kangmas_bahar)

Share this :