EsaiHikmah

HUMILITY

AFINEWS.CO.ID|  JADIKANLAH kekurangan sebagai motivasi, dan kelebihan merupakan hal yang patut disyukuri.

Kesombongan adalah salah satu komponen yang mampu membuat diri jatuh terpuruk.

Saat semua dikendalikan oleh nafsu amarah.

Maka SIFAT HUMILITY bisa dijadikan salah satu soluti.

Dalam kalangan umat Islam dikenal dengan kerendahan hati.

Tawadhu’. Rendah hati, atau Humility.

Merupakan sebuah sikap, menyadari keterbatasan kemampuan diri.

Sehingga tidak merasa angkuh dan tidak pula sombong.

Inilah ajaran pokok dalam Islam, sebagaimana ditauladani oleh Baginda Rasulullah SAW.

Ketika berinteraksi, Nabi Muhammad Rasulullah SAW selalu mengedepankan Humility.

Tanpa memandang status sosial, golongan, dan ras.

Sebagaimana diabadikan dalam Alqur’an Surah Ali Imran Ayat 19.

“Maka berkat rahmat ALLAH SWT, engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka.”

“Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.”

Kemudian dalam Alqur’an Surah Al Isra’ Ayat 37, dijelaskan.

“Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong.”

“Karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi.”

“Dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.”

Termasuk larangan merendahkan orang lain, dengan memalingkan wajah.

“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong).”

“Dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh.”

“Sungguh, ALLAH SWT tidak menyukai orang-orang yang sombong.”

“Dan membanggakan diri.”

(Alqur’an Surah Luqman Ayat 18)

Bagaimana cara kita agar mampu bersikap rendah hati ?

Syekh Imam Nawawi al-Bantani Al Jawi, dalam Kitab Nashaih al-Ibad, menerangkan.

Sebagaimana menukil ungkapan Syekh Abdul Qadir al-Jilani bin Abi Sholih Musa Janka Dausat.

“Jika kamu bertemu salah seorang,, maka pandanglah.”

“Bahwa dia memiliki keutamaan, dibandingkan dirimu.”

“Dan tanamkan dalam hatimu, katakanlah.”

“Bisa jadi dia lebih baik dan lebih tinggi derajatnya, dalam pandangan ALLAH SWT.”

“Jika melihat orang yang lebih muda, maka katakan.”

“Bahwa dia tidak (belum) melakukan dosa kepada ALLAH SWT.”

“Sementara saya telah melakukan dosa kepada-Nya.”

“Maka tidak dapat dipungkiri, bahwa dia lebih baik daripada diri kita.”

“Jika melihat orang yang lebih tua (umurnya), maka katakan.”

“Bahwa dia telah lebih dulu beribadah kepada ALLAH SWT, dibandingkan diri kita.”

“Jika melihat orang ‘alim, maka katakan.”

“Bahwa dia telah berkonstribusi dengan ilmunya.”

“Sedang diri kita belum mampu melakukannya.”

“Jika melihat orang bodoh, maka katakan.”

“Bahwa dia melakukan dosa kepada ALLAH SWT, karena kebodohannya.”

“Ssementara diri kita melakukan dosa, dalam keadaan sadar.”

“Jika melihat orang kafir, maka katakan.”

“Saya tidak tahu, barangkali iakelak masuk Islam.”

Semoga ALLAH SWT selalu menjaga dan mensucikan hati kita semua.

Aamiin Aamiin Aamiin Yaa Mujibassaili

(kangmas_bahar)

Share this :