EsaiHikmah

ZAMAN ANEH !

AFINEWS.CO.ID| SUATU ketika Baginda Rasulullah SAW bercerita masa depan ummat Islam.

Tidak seperti biasanya, terlihat ekspresi Rasulullah SAW lebih serius.

Sesekali, Rasulullah SAW mengambil nafas panjang.

Para shahabat pun cukup terheran-heran.

Terutama Shahabat Harits Ibnu ‘Umairah, merasa penasaran.

“Ya Rasululah SAW, ada apa dengan ummatmu ?”

Sebagaimana terekam dalam Kitab Minhajul ‘Abidin, Karya Hujatul Islam, Imam Ahmad Al-Ghazali.

Baginda Nabi Muhammad Rasulullah SAW, menyampain pesan beberapa hal.

“Jika umurmu panjang, kamu akan menghadapi suatu ZAMAN ANEH !”

“Pada zaman tersebut, akan banyak ahli pidato yang piawai.”

“Terutama saat ia berada di panggung-panggung taklim (pengajian).”

“Namun, sayang sekali, tak banyak dari kalangan mereka yang benar-benar ulama.”

“Yakni, yang memahami ilmu agama dengan baik.”

“Serta hatinya benar-benar takut kepada ALLAH SWT.”

“Pada zaman tersebut, akan banyak engkau jumpai orang memerlukan bantuan.”

“Mereka bukanlah lantaran miskin, namun senang mendapat predikat miskin.”

“Kalangan pencari ilmu, sangat sedikit yang niatnya ikhlas.”

“Mereka mencari ilmu, hanya untuk mengikuti hawa nafsunya.”

Harits ibnu ‘Umairah serta shahabat lainnya yang mendengarkan, makin penasaran.

“Ya Rasulullah SAW, kapan hal tersebut akan terjadi ?”

Setelah terdiam sejenak, kemudian Baginda Rasulullah SAW, melanjutkan sabdanya.

“Ya Ibn ‘Umairah, nanti genarasi yang jaraknya jauh dengan kita akan menjumpainya.”

“Pada masa itu pelaksanaan ibadah sholat lebih mengarah formalitas.”

“Banyak orang tidak lagi mengaplikasikan nilai-nilai ibadah sholat, dalam kehidupan sehari-harinya.”

“Perbuatan korupsi, kolusi, nepotisme, suap-menyuap, dan seterusnya, makin menjamur.”

“Hukum telah diperjualbelikan, demi meraih pangkat dan jabatan.”

“Tak sedikit di antara ummat Islam, rela menjual agama demi kesenangan hidup di dunia semata.”

“Jika keadaan tersebut sudah terjadi maka selamatkanlah dirimu.”

(Hadits Riwayat Imam Bukhari, Muslim, Ibnu Majjah, At-Tirmidzi)
Sedang riwayat yang lain, disampaikan oleh Syech Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Asqalani.

Kitab Nashaihul ‘Ibad, mengutip Hadits Riwayat Ibnu Hibban dan Al-Baihaqy, tentang zaman aneh (akhir).

Bahwa kelak masjid menjadi bangunan yang aneh.

Berdiri megah, dibangun dengan susah payah, namun sepi jama’ah.

Padahal berada di tengah-tengah perkampungan padat penduduk.

Demikian pula Mushaf Alqur’an, menjadi perkara aneh.

Orang berlomba-lomba mengoleksi Alqur’an di rumahnya.

Mereka membeli Alqur’an dengan model terbaru, harganya pun cukup mahal.

Namun, Alqur’an hanya menjadi hiasan dan simbol kebanggaan.

Kitab Suci ini selalu nampak seperti baru, meski sudah terpajang bertahun-tahun di rak buku.

Bisa jadi, sang pemilik rumah sudah terlalu sibuk mengurus, anak, mantu, dan cucu.

Nyaris tak ada waktu untuk belajar menghayati isi kandungannya.

Apalagi mengikuti kegiatan Khotmil Alqur’an atau Majelis Ta’lim Sema’an Alqur’an.

Yang sibuklah, banyak acaralah, jadwal padatlah, dan seterusnya dan seterusnya.

Saudaraku, mungkin kita harus me-reset (tata kembali) kehidupan inii.

Agar kehidupan kita sesuai dengan tuntunan Alqur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.

Ingatlah, tak satupun makhluk yang bisa lolos dari kematian.

Baik rakyat, pejabat, umat, ustadz, santri, kyai, nabi, dan rasul sekalipun.

Semoga ALLAH Azza Wajalla, memberikan kebahagiaan dunia akhirat kepada kita semua.

Dan dalam perjumpaan akhir, kita tercata sebagai hamba yang HUSNUL KHOTIMAH !

Aamiin Aamiin Aamiin Yaa Mujibassailin.

(kangmas_bahar)

Share this :