LokalNasional

Rektor UNAIR Paparkan Stem Cell Kepada Kepala Staf Kepresidenan

AFINEWS.CO.ID|JAKARTA, Rektor Universitas Airlangga. Mohammad Nasih SE., M.T., Ak., CMA., Mempresentasikan penelitian Stem Cell kepada Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko di Bina Graha, Rabu (7/10/2019). Selain pimpinan UNAIR lainnya, Profesor Nasih menjelaskan pengembangan, rencana pengembangan dan hasil penelitian Stem Cell di UNAIR.

Hadir pula dalam agenda audiensi di Jakarta, Wakil Rektor UNAIR, Prof. Dr., Djoko Santoso Ph.D., K-GH., FINASIM .; Wakil Rektor II Dr. Muhammad Madyan, SE., M.Sc., M.Fin.; dan Sekretaris Jenderal UNAIR, Drs. Koko Srimulyo, M.Sc. Ini termasuk Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Stem Cell UNAIR (P3SC), Dr. Purwati dr., SP.PD.

Perlu dicatat bahwa sel punca adalah salah satu teknologi medis yang dikembangkan oleh UNAIR hingga saat ini. Dalam perkembangannya, penelitian ini diwujudkan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Stem Cell. Yakni, pusat studi untuk pengembangan dan penelitian sel induk di bawah UNAIR.

Lembaga ini bertujuan untuk menjadi advokat (dukungan, dukungan dan dukungan), baik dalam penelitian dasar dan penelitian transisi, di bidang sel induk dan rekayasa jaringan. Selama perjalanannya, Pusat Penelitian dan Pengembangan Stem Cell berkolaborasi dengan bank sel dan jaringan Dr. RSUD. Soetomo Surabaya Di masa depan, pengembangan lebih lanjut akan diarahkan ke penelitian teknis untuk layanan berbasis penelitian yang telah dikembangkan dengan legalitas Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Pada saat peresmian laboratorium penelitian Stem Cell di Institut C Kampus Institut Kedokteran Tropis Surabaya, pada tahun sebelumnya, Dr. Purwati mengatakan bahwa sekarang UNAIR sedang mengembangkan sel punca untuk melawan penuaan. Justru bekerja sama dengan RSUD Dr. Soetomo.

“Untuk pengembangan bisnis, P3SC bermitra dengan perusahaan negara PT Phapros Tbk,” katanya.

Sementara itu, pada pertemuan itu, Profesor Nasih fokus menjelaskan pengembangan teknologi sel induk yang dilakukan UNAIR. Perkembangan itu, lanjut Profesor Nasih, telah mengarah pada bentuk kerja sama dengan BUMN. Yakni, biopharma.

Namun, Prof. Nasih berharap akan ada peluang lebih besar untuk kerja sama di masa depan. Terutama untuk dukungan dan dukungan total dari pemerintah.

“Banyak yang meragukan sel induk karena mereka takut gagal dan menyebabkan korban, pada kenyataannya, ini kurang mungkin, tentu saja, ini harus mendapat dukungan hukum sehingga orang tidak ragu-ragu,” katanya.

Di sisi lain, menanggapi presentasi Prof. Nasih, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menanggapi dengan serius pengembangan penelitian sel induk yang dilakukan oleh UNAIR. Sedangkan untuk stigma negatif yang muncul, Moledoko berharap agar akademisi, terutama peneliti, dapat dan harus bisa mengatasinya.

“Akademisi harus bisa keluar dari stigma negatif yang bisa membuat mereka tidak yakin akan teknologi,” katanya.

“Kita (peneliti Indonesia, Red) harus keluar dari situasi ini, karena itu bisa menjadi upaya untuk meremehkan perkembangan teknologi Stem Cell,” tambahnya. (*)

Share this :